Langsung ke konten utama

INFLASI DAN PENGANGGURAN


INFLASI DAN PENGANGGURAN

Defining Full Employment

              Kondisi full employment adalah hal yang berbeda dengan zero unemployment. Terdapat beberapa alasan bahwa tingkat unemployment merupakan hal yang tidak dapat dihindari. Keadaan tanpa pekerjaan sebenarnya tidak dapat diabaikan sepanjang aktifitas ekonomi terus berjalan pada musim-musim tertentu. Pada akhir setiap musim, banyak pekerja yang mengalami proses seasonal unemployment harus mencari pekerjaan baru. Fluktuasi yang terjadi pada setiap musim akan menaikan supply side di pasar tenaga kerja. Sebagai contoh, tingkat unemployment usia muda akan meningkat pada musim dimana para pelajar mencari pekerjaan sementara. Seasonal unemployment dapat didefinisikan sebagai berikut : unemployment yang disebabkan oleh perubahan musim tenaga kerja atau labor supply.
              Di dalam proses berpindah dari satu pekerjaan ke pekerjaan yang lain, seseorang mungkin akan kehilangan beberapa waktu. Akan tetapi waktu yang hilang tersebut dapat dimungkinkan sebagai konsekuensi untuk memperoleh pekerjaan yang lebih baik. Periode waktu yang diperlukan untuk mencari pekerjaan akan memberi kesempatan untuk mengetahui jenis pekerjaan yang tersedia, keterampilan yang dibutuhkan, dan upah yang akan diberikan. Periode waktu yang singkat yang dibutuhkan dalam mencari pekerjaan akan dapat menguntungkan bagi mereka yang masuk ke dalam pasar tenaga kerja dan perekonomian yang lebih besar. Unemployment yang berhubungan dengan cara yang dipakai oleh para pencari kerja ini merupakan bentuk frictional unemployment. Secara ringkas bentuk unemployment ini dapat dinyatakan sebagai berikut : periode waktu yang relatif singkat untuk tidak bekerja yang dialami oleh mereka yang bergerak dari satu pekerjaan ke pekerjaan lain, atau yang bergerak di dalam pasar tenaga kerja.
              Bagi para pencari kerja, masa antara pekerjaan yang satu dengan yang lainnya mungkin hanya bertahan dalam beberapa bulan atau beberapa tahun, yang dikarenakan mereka tidak memiliki keterampilan seperti yang diinginkan oleh pihak pengusaha. Sebagai contoh adalah kesulitan yang dihadapi oleh para pekerja industri baja di Amerika Serikat. Selama era 1980-an industri baja mengalami kontraksi pada saat permintaan konsumen menurun; berkembangnya kendaraan ringan (lighter-weight car); serta menurunnya pembangunan jalan bebas hambatan, jembatan, dan bangunan. Selama proses berjalan, lebih dari 300.000 pekerja kehilangan pekerjaannya. Kebanyakan dari mereka telah memiliki pengalaman bekerja dan keterampilan yang tinggi. Namun pengalaman dan keterampilan tersebut tidak lagi sesuai dengan permintaan yang ada. Hal ini dikarenakan mereka tidak dapat memenuhi persyaratan dari pekerjaan yang tersedia di bidang computer software, biotechnology, atau industri lain yang berkembang sangat cepat. Meskipun mereka memiliki cukup lapangan pekerjaan di dalam pasar tenaga kerja, namun para pekerja industri baja tersebut tidak dapat memenuhi kualifikasi yang diminta. Dalam kondisi ini, para pekerja tersebut merupakan penerima akibat dari structural unemployment. Lebih jelasnya structural unemployment merupakan unemployment yang disebabkan oleh tidak bertemunya antara keterampilan dari pencari kerja dengan persyaratan yang diminta dari pekerjaan yang tersedia.
              Jenis keempat dari unemployment adalah cyclical unemployment, yaitu kondisi tanpa pekerjaan yang terjadi pada saat tidak terdapat cukup lapangan pekerjaan yang tersedia. Cyclical unemployment bukan merupakan kasus dari pergerakan di antara pekerjaan atau di antara para pencari kerja. Unemployment ini merupakan suatu tingkat permintaan tenaga kerja yang tidak dapat dipenuhi. Contohnya, pada masa Great Depression dimana terjadi kenaikan tingkat unemployment yang dimulai pada tahun 1930 bukan merupakan akibat dari adanya kenaikan pergeseran  atau penurunan mendadak dari keterampilan para pekerja. Hal ini terjadi karena kenaikan tingkat unemployment lebih disebabkan oleh suatu masa dimana terdapat penurunan yang tiba-tiba dari permintaan barang dan jasa. Secara sederhana dapat dikatakan bahwa cyclical unemployment merupakan unemployment yang disebabkan oleh kurangnya lapangan pekerjaan sebagai akibat dari tidak cukupnya tingkat aggregate demand.

The Full-Employment Goal


              Pengertian full employment dapat diukur dengan memperhatikan harga. Pada saat perekonomian mencapai batasan kemungkinan produksi-nya, tenaga kerja dan factor produksi yang lain akan menjadi lebih sedikit. Kemudian para pelaku pasar akan melakukan tawar menawar terhadap factor produksi yang tersisa tersebut, sehingga upah dan harga akan bergerak naik. Oleh karena itu, kenaikan harga merupakan tanda bahwa tenaga kerja mulai mendekati kapasitasnya. Seandainya ditetapkan kondisi full employment tercapai pada tingkat 4 persen dari unemployment. Pada saat tingkat unemployment turun di bawah 4 persen, maka harga akan mulai bergerak naik. Karenanya 4 persen dari unemployment dianggap sebagai suatu hasil kesepakatan yang dapat diterima dalam hal ketenagakerjaan dan harga.
             
Price Stability

              Inflasi merupakan kenaikan rata-rata harga barang dan jasa. Karena merupakan kenaikan rata-rata harga, maka berarti tidak semua harga barang dan jasa naik. Dalam kenyataannya tidak sedikit harga yang mengalami penurunan, bahkan pada masa dimana terjadi general inflations. Ketidakadilan, kecemasan, dan kehilangan yang disebabkan oleh inflasi telah menjadikan kestabilan harga sebagai tujuan utama dari kebijakan ekonomi.
              Menetapkan tingkat inflasi pada angka tertentu dapat didasarkan pada alasan unemployment. Untuk mempertahankan harga, pemerintah mungkin harus mengendalikan pengeluarannya. Akibat pengendalian ini, maka akan mengurangi produksi dan meningkatkan pengangguran. Dengan kata lain, akan sangat mungkin terdapat trade-off antara penurunan inflasi dan kenaikan unemployment (lihat pada Phillips Curve). Dari sisi ini dapat dikatakan bahwa kenaikan inflasi akan menjadi “harga” yang harus dibayar oleh suatu perekonomian untuk mempertahankan kenaikan tingkat unemployment.
              Kondisi full employment yang tercapai pada saat perekonomian berada pada batasan kemungkinan produksi-nya akan membawa pada kenaikan harga. Dalam kondisi ini, unemployment mungkin merupakan “harga” yang harus dibayar untuk mencapai kestabilan harga. Idealnya, tujuan dari “full employment” adalah untuk mencapai tingkat unemployment serendah mungkin dan diikuti dengan kestabilan harga. Tingkat inflasi yang dianggap paling baik tergantung pada strategi anti-inflation pada tingkat unemployment. Berdasarkan pengalaman yang terkait dengan tingkat unemployment dan inflasi, maka dapat ditetapkan angka inflasi yang dianggap sebagai target yang paling aman bagi suatu perekonomian.
   
Causes of Inflation

            Perubahan tingkat harga dapat didasarkan pada permintaan dan penawaran yang ada dalam pasar. Namun tekanan yang berlebih pada sisi permintaan sering menjadi penyebab dari inflasi. Seandainya suatu perekonomian telah mencapai kapasitas produksi, namun ternyata konsumen mampu untuk membeli lebih banyak output yang dihasilkan, maka akan terjadi akumulasi tabungan dan kemudahan akses untuk memperoleh kredit, serta konsumen akan mengakhiri usahanya untuk membeli lebih banyak output dibanding output yang dapat dihasilkan. Pada saat konsumen ingin memperoleh lebih banyak output, maka inventory akan berkurang (bahkan dapat habis). Dalam keadaan ini produsen akan mulai menaikan harga, dan hasilnya akan terjadi kenaikan rata-rata harga yang disebabkan oleh permintaan, atau terjadi demand-pull inflation.
            Tekanan pada harga dapat juga berasal dari sisi penawaran. Sebagai contoh, pada saat OPEC menaikan harga minyak secara mendadak pada pertengahan tahun 1970-an, biaya produksi pada berbagai industri melonjak naik. Untuk mengatasi biaya produksi yang lebih tinggi, maka produsen mulai menaikan harga output-nya. Inflasi dapat juga disebabkan oleh upah yang lebih tinggi. Jika serikat pekerja dapat mendorong kenaikan upah, maka biaya produksi juga akan ikut naik yang selanjutnya akan mendorong kenaikan harga output.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Arbitrase & Penyelesaian Sengketa

A.PENYELESAIAN SENGKETA BISNIS MELALUI JALUR LITIGASI Dalam menjalankan kegiatan bisnis, kemungkinan timbulnya sengketa suatu hal yang sulit untuk dihindari. Oleh karena itu, dalam peta bisnis modern dewasa ini, para pelaku bisnis sudah mulai mengantisipasi atau paling tidak mencoba meminimalisasi terjadinya sengketa. Langkah yang ditempuh adalah dengan melibatkan para penasehat hukum (legal adviser) dalam membuat dan ataupun menganalisasi kontrak yang akan ditanda tangani oleh pelaku usaha. Yang menjadi soal adalah, bagaimana halnya kalau pada awal dibuatnya kontrak, para pihak hanya mengandalkan saling percaya, kemudian timbul sengketa, bagaimana cara penyelesaian sengketa yang tengah dihadapi pebisnis. Secara konvensional atau tepatnya kebiasaan yang berlaku dalam beberapa dekade yang lampau jika ada sengketa bisnis, pada umumnya para pebisnis tersebut membawa kasusnya ke lembaga peradilan ditempuh, baik lewat prosedur gugatan perdata maupun secara pidana. Jika pilihannya penyelesaia…

Manajemen SDM

Kuliah Minggu Pertama
KULIAH:MANAJEMEN SUMBERDAYA MANUSIA DAN HUBUNGAN MANAJERIAL JUMLAH SKS:3 JAWAL KULIAH :10.30 – 13.00
Globalisasi Manajemen Sumberdaya Manusia (MSDM)
Globalisasi bisnis terus tumbuh karena adanya pengaruh-pengaruh seperti perubahan populasi, ketergantungan ekonomi, perserikatan regional (NAFTA, AFTA, CLC, EU), dan kompetensi komunikasi global.
Organisasi yang menjalankan bisnis secara internasional mungkin berkembang dari organisasi yang terlibat dalam aktivitas impor dan ekspor, menjadi perusahaan multinasional, berubah menjadi organisasi global. Impor dan ekspor: menjual dan membeli barang dan jasa dengan organisasi-organisasi di negara-negara lain. Perusahaan multinasional: sebuah organisasi yang memiliki unit-unit operasi yang berlokasi di negara-negara asing. Organisasi global: sebuah organisasi yang memiliki unit-unit perusahaan di beberapa negara yang digabungkan menjadi satu untuk beroperasi di seluruh dunia.
Faktor hukum, politik, ekonomi, dan budaya mempengaruhi ma…

UANG, TINGKAT BUNGA, DAN PENDAPATAN

The Goods Market and the IS Curve
Kurva IS menggambarkan kombinasi interest rate (tingkat bunga) dan output, dimana tercapai keseimbangan antara planned spending dan income.
Investment and the Interest Rate
Bentuk fungsi investment spending adalah : I = Ī – bidan b > 0, dimana i adalah interest rate dan b merupakan koefisien untuk mengetahui kepekaan investment spending terhadap interest rate. Ī adalah autonomous investment spending, yaitu investment spending yang tidak tergantung pada income dan interest rate. Dari persamaan I = Ī – bi dapat diketahui bahwa semakin rendah interest rate, semakin tinggi planned investment. Jika b semakin besar dan kemudian terdapat sedikit kenaikan interest rate, maka akan menghasilkan penurunan investment spending yang besar. Investment ditentukan oleh slope-nya (b) dan autonomous investment spending (Ī). Jika investment sangat peka terhadap interest rate, maka penurunan sedikit saja dari interest rate akan mengakibatkan kenaikan yang besar terhadap i…